Aku
mungkin bodoh menetukan alarm tadi malam, kalau akhirnya aku bangun sebelum
alarm itu berbunyi. Aku bahkan tidak berniat bangun untuk mematikannya. Hanya saja
aku tidak bisa tahan dengan suara bodohnya. Memikirkan semua ini sungguh
menyusahkan. Seharusnya aku bisa tertidur hingga siang nanti. Beranjak lalu
duduk menikmati suara bodoh dari alarm, otakku ternyata sudah mulai bekerja
sesaat sebelum mataku terbuka hingga aku dalam keadaan sekarang ini. Kulirik jendela
dari balik tirai, ternyata langit masih belum secerah mataku sementara otak ku
terus berfikir apa yang harus aku lakukan sekarang.
Ku
lirik jam di handphoneku sembari mematikan suara alarm yang sedari tadi
berdering memenuhi kamarku. Pukul 6.30, masih terlalu pagi untuk beraktivitas,
sementara angin utara yang berhembus sudah pasti membuat suhu diluar dingin
untukku. Beranjak aku keluar kamar menyalakan kompor untuk menyeduh teh hangat
pagi ini. Sepintas otakku yang sedari tadi bekerja seenak hatinya berhenti pada
sebuah kesimpulan. Mengapa aku tidak ke Desa Sei Lepan saja pagi ini. Suasana pagi
dingin ini pasti memiliki cerita sendiri di desa sepi itu. Segera badan yang
bermalas-malasan bersemangat seolah mendapatkan energi baru. Ku persiapkan
segalanya untuk keperluanku disana. Termos untuk menjaga hangat teh dan
beberapa potong roti untuk ku menghabiskan sarapan disana.
Sekitar
setengah jam berikutnya, motorku telah melaju di jalan raya Lobam, memacunya
agar aku tidak terlalu telat tiba hingga disana. Walaupun pepatah mengatakan
lebih baik telat dari pada tidak sama sekali, namun aku pikir aku trauma dengan
kata “telat” ini. Bukan karena telat datang bulan, sementara aku adalah
laki-laki. Hanya saja, terlambat mendapatkan sesuatu yang harusnya ku miliki
cukup membuat aku selalu menyalahkan diri sendiri. Kalau orang bijak
mengatakan, hanya orang yang bodoh yang terlalu berburu waktu. Aku mungkin
terlalu bodoh mengikuti kata orang bijak itu. Aku selalu berfikir kalau aku
selalu punya waktu, ternyata aku tidak. *ungkapan Buddha
Yah,
aku fikir semua orang berhak untuk menentukan pilihannya, termasuk aku. Biarlah,
mungkin aku lebih baik fokus untuk mengejar keterlambatanku, termasuk mengejar
suasana pagi di Desa Sei Lepan. Desa sepi bekas peninggalan pasir, yang kini
dihuni beberapa kepala keluarga yang mengharapkan penghasilan dari laut.
Desa
ini dahulunya terpisah dari daratan Bintan. Untuk mencapai kesana harus
menyebrangi selat dengan bantuan sejenis rakit yang hanya dapat memuat beberapa
sepeda motor. Untuk biaya penyebrangan yang dahulunya dikenakan Rp 10.000, kini
akhirnya semua orang dapat berlalu lalang kesana dengan mudah. Sebuah jembatan
kecil untuk melintasnya sepeda motor dibangun untuk mempermudah akses menuju
kesini. Keseriusan pemerintah setempat untuk memajukan desannya yang terkenal
dengan Danau Biru yang tercipta setelah di tinggal penambang pasir.
Sepi
dan damai, itu suasana yang pertama sekali ku rasakan ketika tiba di desa ini. Masyarakatnya
yang ramah dan mudah senyum ketika berpapasan denganku saat aku mencoba
mengabadikan suasana di desa ini. Menghabiskan potongan roti ditemani teh
hangat sembari menatap jauh kedepan agar lebih menyatu dengan alam sekitar. Fikiran
jernih yang kudapatkan sementara aku mengenang setiap perjalanan yang telah aku
lalui selama di tahun 2017. Setahun yang lalu segalanya sungguh berbeda, dan
sekarang, ketika aku melihat kembali, aku menyadari bahwa setahun dapat berarti
banyak bagi setiap orang.
Selamat
datang di Desa Sei Lepan. Desa tenang tersembunyi di Bintan yang memberikan
ketenangan bagi pengunjungnya. Hargai dimana kakimu berpijak agar engkau pun
dihargai disana. Jaga kebersihannya seperti engkau menjaga kebersihan tubuhmu. Bersikap
ramahlah pada mereka karena mereka adalah tuan rumah yang menyediakan tempat
untukmu melepas penat dari hiruk pikuk duniamu. Bersenang-senanglah dan jangan
lupa untuk pulang.
-jewe
No comments:
Post a Comment