Tuesday, February 6, 2018

Menyapa Surya di Desa Lepan,


Aku mungkin bodoh menetukan alarm tadi malam, kalau akhirnya aku bangun sebelum alarm itu berbunyi. Aku bahkan tidak berniat bangun untuk mematikannya. Hanya saja aku tidak bisa tahan dengan suara bodohnya. Memikirkan semua ini sungguh menyusahkan. Seharusnya aku bisa tertidur hingga siang nanti. Beranjak lalu duduk menikmati suara bodoh dari alarm, otakku ternyata sudah mulai bekerja sesaat sebelum mataku terbuka hingga aku dalam keadaan sekarang ini. Kulirik jendela dari balik tirai, ternyata langit masih belum secerah mataku sementara otak ku terus berfikir apa yang harus aku lakukan sekarang.

Ku lirik jam di handphoneku sembari mematikan suara alarm yang sedari tadi berdering memenuhi kamarku. Pukul 6.30, masih terlalu pagi untuk beraktivitas, sementara angin utara yang berhembus sudah pasti membuat suhu diluar dingin untukku. Beranjak aku keluar kamar menyalakan kompor untuk menyeduh teh hangat pagi ini. Sepintas otakku yang sedari tadi bekerja seenak hatinya berhenti pada sebuah kesimpulan. Mengapa aku tidak ke Desa Sei Lepan saja pagi ini. Suasana pagi dingin ini pasti memiliki cerita sendiri di desa sepi itu. Segera badan yang bermalas-malasan bersemangat seolah mendapatkan energi baru. Ku persiapkan segalanya untuk keperluanku disana. Termos untuk menjaga hangat teh dan beberapa potong roti untuk ku menghabiskan sarapan disana.

Sekitar setengah jam berikutnya, motorku telah melaju di jalan raya Lobam, memacunya agar aku tidak terlalu telat tiba hingga disana. Walaupun pepatah mengatakan lebih baik telat dari pada tidak sama sekali, namun aku pikir aku trauma dengan kata “telat” ini. Bukan karena telat datang bulan, sementara aku adalah laki-laki. Hanya saja, terlambat mendapatkan sesuatu yang harusnya ku miliki cukup membuat aku selalu menyalahkan diri sendiri. Kalau orang bijak mengatakan, hanya orang yang bodoh yang terlalu berburu waktu. Aku mungkin terlalu bodoh mengikuti kata orang bijak itu. Aku selalu berfikir kalau aku selalu punya waktu, ternyata aku tidak. *ungkapan Buddha
Yah, aku fikir semua orang berhak untuk menentukan pilihannya, termasuk aku. Biarlah, mungkin aku lebih baik fokus untuk mengejar keterlambatanku, termasuk mengejar suasana pagi di Desa Sei Lepan. Desa sepi bekas peninggalan pasir, yang kini dihuni beberapa kepala keluarga yang mengharapkan penghasilan dari laut.


Desa ini dahulunya terpisah dari daratan Bintan. Untuk mencapai kesana harus menyebrangi selat dengan bantuan sejenis rakit yang hanya dapat memuat beberapa sepeda motor. Untuk biaya penyebrangan yang dahulunya dikenakan Rp 10.000, kini akhirnya semua orang dapat berlalu lalang kesana dengan mudah. Sebuah jembatan kecil untuk melintasnya sepeda motor dibangun untuk mempermudah akses menuju kesini. Keseriusan pemerintah setempat untuk memajukan desannya yang terkenal dengan Danau Biru yang tercipta setelah di tinggal penambang pasir.



Sepi dan damai, itu suasana yang pertama sekali ku rasakan ketika tiba di desa ini. Masyarakatnya yang ramah dan mudah senyum ketika berpapasan denganku saat aku mencoba mengabadikan suasana di desa ini. Menghabiskan potongan roti ditemani teh hangat sembari menatap jauh kedepan agar lebih menyatu dengan alam sekitar. Fikiran jernih yang kudapatkan sementara aku mengenang setiap perjalanan yang telah aku lalui selama di tahun 2017. Setahun yang lalu segalanya sungguh berbeda, dan sekarang, ketika aku melihat kembali, aku menyadari bahwa setahun dapat berarti banyak bagi setiap orang.

Selamat datang di Desa Sei Lepan. Desa tenang tersembunyi di Bintan yang memberikan ketenangan bagi pengunjungnya. Hargai dimana kakimu berpijak agar engkau pun dihargai disana. Jaga kebersihannya seperti engkau menjaga kebersihan tubuhmu. Bersikap ramahlah pada mereka karena mereka adalah tuan rumah yang menyediakan tempat untukmu melepas penat dari hiruk pikuk duniamu. Bersenang-senanglah dan jangan lupa untuk pulang.

-jewe

No comments:

Post a Comment