Monday, January 29, 2018

Senggiling, Surga Tersembunyi yang Ternodai.


Lobam, 6 January 2018.
Pagi yang cerah diawal tahun baru di musim penghujan, membuat aku segera bergegas dari tempat tidurku sesaat setelah kulirik deras cahaya mentari yang masuk melalui kaca nako kamar tempatku tinggal. Mata sayu, karena merasa kurang puas tidur segera berbinar melihat cahaya yang menerobos kamar tidurku. Bangkit dan memastikan keadaan sesungguhnya keluar rumah, sontak berteriak didalam hati dan segera aku berkemas mandi dan mempersiapkan petualangan hari ini.

Keahlian tangan seribu pun bekerja disaat-saat seperti ini. Bagaimana tidak, setelah telat tidur malam, aku harus bangun kesiangan di pagi secerah ini. Sembari menunggu air mendidih, mandi secepat mungkin, mempersiapkan beberapa potong roti, secangkir teh hangat, sebotol air minum, periksa kelengkapan motret, aku berangkat sesegera mungkin ke sebuah tujuan yang telah lama ingin aku tuju.

Senggiling, sebuah desa yang terkenal dengan pantai indahnya, kesanalah tujuanku. Sebuah tempat yang sengaja tidak ku kunjungi lagi setelah kunjungan pertama selama berada di pulau ini hanya karena ingin menantikan orang yang tepat sebagai temanku menjelajah nya. Terlalu lama aku menantinya, sementara waktu untuk ku tinggal di pulau ini tinggal hitungan hari. Aku pikir, kesempatan hari ini akan menjadi kesempatan terakhirku untuk mengunjungi pantai ini. Tanpa persiapan (dimusim hujan, intensitas hujan tinggi di pulau ini, sulit memprediksi cerah dan mendungnya, sesulit memprediksi isi hatimu), tanpa teman (tadinya aku ingin bersamamu, namun mungkin bayangmu yang ku bawa).

Desa Senggiling, berada di Desa Sri Bintan, Kecamatan Teluk Sebong Kabupaten Bintan, merupakan desa kecil yang masih terjaga kelestarian alamnya. Untuk mencapai desa ini tidaklah terlalu sulit di era teknologi yang sekarang ini ditambah jalanan yang dilalui juga terbilang bagus.

Namun itu hanya sampai didesa nya saja. Tidak bila kamu ingin menuju pantainya. Pantai senggiling tertutup dari dunia luar, dikarenakan tanah nya merupakan milik perusahaan swasta. Kamu harus meninggalkan kartu tanda pengenal di pos security sebelum memasuki daerahnya menuju pantai. Aku pikir, selain sebagai jaminan bagi pihak pengelola, meninggalkan kartu tanda pengenal juga baik bila suatu saat ada mereka yang tersesat ketika ingin menuju lokasi pantai.
“Sendiri aja bang?” sapa salah satu security sesaat setelah ku parkirkan motor.
“hehehe, iya boncengannya lagi merajuk ga mau ikut pak?” jawabku bercanda menanggapi.
“Udah pernah ke dalam sebelumnya?” Tanya nya kembali.
“Sudah pak, ini yang kesekian kalinya.” Jawabku meyakinkan mereka sembari menyerahkan KTP.

Setelah berbasa basi sekenanya aku berangkat menyusuri jalanan berbatu kawasan perkebunan milik swasta pengelola tempat . Ini kali kedua aku mengunjungi tempat ini, jalanannya sudah jauh lebih baik dari pertama kali aku kesini. Buktinya aku bisa melamunkan wajah indah sepanjang jalan ini. Hanya ditemui beberapa genangan lumpur yang mengharuskan aku turun dari sepeda motor untuk melalui nya.

Pantai pasir putih, sebagai tempat pelestarian penyu yang terkenal dengan ombaknya melunturkan seketika lelah perjalanan pun dengan lelah hati. Pasir putih, ombak dan jejeran batu besar menjadi ciri khas indah pantai ini. Oh iya, satu lagi, ciri khas pantai ini adalah “sampah”.


Menjengkelkan memang melihat keadaan sesungguhnya bahwa surga tersembunyi ini ternodai oleh sampah. Berbeda dengan panta-pantai disejajaran garis Pantai Senggiling ini, kamu tidak akan menjumpai sampah di pantainya langsung, namun di bibir pantai batas pasang tertinggi air laut di pantai ini.

Aku dapat menyimpulkan bahwa ini semua sampah kiriman dari tetangga sekitar hanya dengan 2 alasan. Alasan pertama bahwa akses ke pantai ini sangat sulit. jadi orang-orang lebay yang pengetahuannya hanya sebatas foto dan posting ke media sosial malas menuju tempat ini. Jadi pantai ini sepi pengunjungnya. Itu menjadi alasan pertama dan yang terkuat, alasan lainnya adalah bahwa sampah hanya ditemui di bibir pantai batas tertinggi air pasang, dimana sampah plastik tersebut terhanyut dan terdampar hingga ke bibir pantai. Berbeda dengan pantai sebelah, yang kamu akan dengan mudahnya menemukan sampah bahkan dihampir keseluruhan pantai.

Cukup menjengkelkan, bahkan mengingatnya ketika menuliskan ini cukup membuat emosiku sedikit meluap. Namun biarlah begitu, aku sendiri bahkan tidak tahu harus bagaimana dengan sampah-sampah itu. Hanya saja masyarakat kita memang masih rendah kesadaaran akan keindahan dan kebersihan. Aku kesini ingin bersenang-senang, melepas kejenuhan dari sumpah serapah dan omong kosong di keseharianku. Membuang kepenatan sembari merevisi ulang apa yang harus aku capai di tahun 2018 dan apa yang sudah terjadi di 2017. Bukankah ini tahun baru? Bukankah seharusnya ada hal baru selain harus membahas tentang politik, pekerjaan, profesi, uang, sampah, masa depan, ego?

Kunjungan kedua sekaligus kunjungan terakhir ke pantai ini menghadiahkan diksi baru dari pikiranku. Dimana, diksi samar yang telah lama selalu berputar di kepalaku akhirnya tertuang dalam selembar kertas. Aku pikir Semesta cukup adil dalam bait ini, Ia memberikanku sehari saja hari yang cerah untuk mengenang kau yang selalu indah. Ia pun memberikan serta rindu bersama tarian ombak yang menemaniku pengganti hadirmu dan menyapa aku ketika beradu oleh tiupan angin utara. Ia cukup adil ketika memberikan rindu ini untukku, dan memberikan waktu untukmu.

Sebait kalimat bagimu yang ingin berkunjung ke Pantai Senggiling,
“Yang menarik dari sebuah foto ialah bahwa ia tidak akan pernah berubah, walaupun objek di dalamnya berubah. Namun kau mampu memilih apakah ingin berubah menjadi lebih indah atau tidak. Biarlah kenangan yang kau hanyutkan dalam ombak indah Senggiling, namun bukan dengan sampahmu. Tidak perlu harus ditakut-takuti dengan hal mistis, hanya saja kau memang akan hanyut bila keasikan bermain dengan ombak nya yang deras jadi, berhati-hatilah ketika bermain dengan ombaknya, namun jangan suka bermain hati. Satu hal yang perlu kau ingat adalah, jangan lupa pulang, karena kalau kau tidak pulang, kau akan merepotkan pihak pengelola dan keluarga untuk mencarimu.”
Selamat berlibur.
Salam,

-jewe

No comments:

Post a Comment