Lobam,
6 January 2018.
Pagi
yang cerah diawal tahun baru di musim penghujan, membuat aku segera bergegas
dari tempat tidurku sesaat setelah kulirik deras cahaya mentari yang masuk
melalui kaca nako kamar tempatku tinggal. Mata sayu, karena merasa kurang puas
tidur segera berbinar melihat cahaya yang menerobos kamar tidurku. Bangkit dan
memastikan keadaan sesungguhnya keluar rumah, sontak berteriak didalam hati dan segera aku berkemas mandi dan mempersiapkan petualangan hari ini.
Keahlian
tangan seribu pun bekerja disaat-saat seperti ini. Bagaimana tidak, setelah
telat tidur malam, aku harus bangun kesiangan di pagi secerah ini. Sembari menunggu
air mendidih, mandi secepat mungkin, mempersiapkan beberapa potong roti,
secangkir teh hangat, sebotol air minum, periksa kelengkapan motret, aku
berangkat sesegera mungkin ke sebuah tujuan yang telah lama ingin aku tuju.
Senggiling,
sebuah desa yang terkenal dengan pantai indahnya, kesanalah tujuanku. Sebuah tempat
yang sengaja tidak ku kunjungi lagi setelah kunjungan pertama selama berada di pulau ini hanya karena ingin
menantikan orang yang tepat sebagai temanku menjelajah nya. Terlalu lama aku
menantinya, sementara waktu untuk ku tinggal di pulau ini tinggal hitungan
hari. Aku pikir, kesempatan hari ini akan menjadi kesempatan terakhirku untuk
mengunjungi pantai ini. Tanpa persiapan (dimusim hujan, intensitas hujan tinggi
di pulau ini, sulit memprediksi cerah dan mendungnya, sesulit memprediksi isi
hatimu), tanpa teman (tadinya aku ingin bersamamu, namun mungkin bayangmu yang
ku bawa).
Desa
Senggiling, berada di Desa Sri Bintan, Kecamatan Teluk Sebong Kabupaten Bintan,
merupakan desa kecil yang masih terjaga kelestarian alamnya. Untuk mencapai
desa ini tidaklah terlalu sulit di era teknologi yang sekarang ini ditambah
jalanan yang dilalui juga terbilang bagus.
Namun
itu hanya sampai didesa nya saja. Tidak bila kamu ingin menuju pantainya. Pantai
senggiling tertutup dari dunia luar, dikarenakan tanah nya merupakan milik
perusahaan swasta. Kamu harus meninggalkan kartu tanda pengenal di pos security
sebelum memasuki daerahnya menuju pantai. Aku pikir, selain sebagai jaminan
bagi pihak pengelola, meninggalkan kartu tanda pengenal juga baik bila suatu
saat ada mereka yang tersesat ketika ingin menuju lokasi pantai.
“Sendiri
aja bang?” sapa salah satu security sesaat setelah ku parkirkan motor.
“hehehe,
iya boncengannya lagi merajuk ga mau ikut pak?” jawabku bercanda menanggapi.
“Udah
pernah ke dalam sebelumnya?” Tanya nya kembali.
“Sudah
pak, ini yang kesekian kalinya.” Jawabku meyakinkan mereka sembari menyerahkan
KTP.
Setelah
berbasa basi sekenanya aku berangkat menyusuri jalanan berbatu kawasan
perkebunan milik swasta pengelola tempat . Ini kali kedua aku mengunjungi
tempat ini, jalanannya sudah jauh lebih baik dari pertama kali aku kesini. Buktinya
aku bisa melamunkan wajah indah sepanjang jalan ini. Hanya ditemui beberapa
genangan lumpur yang mengharuskan aku turun dari sepeda motor untuk melalui
nya.
Pantai
pasir putih, sebagai tempat pelestarian penyu yang terkenal dengan ombaknya
melunturkan seketika lelah perjalanan pun dengan lelah hati. Pasir putih, ombak
dan jejeran batu besar menjadi ciri khas indah pantai ini. Oh iya, satu lagi,
ciri khas pantai ini adalah “sampah”.
Menjengkelkan
memang melihat keadaan sesungguhnya bahwa surga tersembunyi ini ternodai oleh
sampah. Berbeda dengan panta-pantai disejajaran garis Pantai Senggiling ini,
kamu tidak akan menjumpai sampah di pantainya langsung, namun di bibir pantai
batas pasang tertinggi air laut di pantai ini.
Aku
dapat menyimpulkan bahwa ini semua sampah kiriman dari tetangga sekitar hanya
dengan 2 alasan. Alasan pertama bahwa akses ke pantai ini sangat sulit. jadi
orang-orang lebay yang pengetahuannya hanya sebatas foto dan posting ke media
sosial malas menuju tempat ini. Jadi pantai ini sepi pengunjungnya. Itu menjadi
alasan pertama dan yang terkuat, alasan lainnya adalah bahwa sampah hanya
ditemui di bibir pantai batas tertinggi air pasang, dimana sampah plastik
tersebut terhanyut dan terdampar hingga ke bibir pantai. Berbeda dengan pantai
sebelah, yang kamu akan dengan mudahnya menemukan sampah bahkan dihampir
keseluruhan pantai.
Cukup
menjengkelkan, bahkan mengingatnya ketika menuliskan ini cukup membuat emosiku sedikit
meluap. Namun biarlah begitu, aku sendiri bahkan tidak tahu harus bagaimana
dengan sampah-sampah itu. Hanya saja masyarakat kita memang masih rendah
kesadaaran akan keindahan dan kebersihan. Aku kesini ingin bersenang-senang,
melepas kejenuhan dari sumpah serapah dan omong kosong di keseharianku. Membuang
kepenatan sembari merevisi ulang apa yang harus aku capai di tahun 2018 dan apa
yang sudah terjadi di 2017. Bukankah ini tahun baru? Bukankah seharusnya ada
hal baru selain harus membahas tentang politik, pekerjaan, profesi, uang,
sampah, masa depan, ego?
Kunjungan
kedua sekaligus kunjungan terakhir ke pantai ini menghadiahkan diksi baru dari
pikiranku. Dimana, diksi samar yang telah lama selalu berputar di kepalaku akhirnya
tertuang dalam selembar kertas. Aku pikir Semesta cukup adil dalam bait ini, Ia
memberikanku sehari saja hari yang cerah untuk mengenang kau yang selalu indah.
Ia pun memberikan serta rindu bersama tarian ombak yang menemaniku pengganti
hadirmu dan menyapa aku ketika beradu oleh tiupan angin utara. Ia cukup adil
ketika memberikan rindu ini untukku, dan memberikan waktu untukmu.
Sebait
kalimat bagimu yang ingin berkunjung ke Pantai Senggiling,
“Yang
menarik dari sebuah foto ialah bahwa ia tidak akan pernah berubah, walaupun
objek di dalamnya berubah. Namun kau mampu memilih apakah ingin berubah menjadi
lebih indah atau tidak. Biarlah kenangan yang kau hanyutkan dalam ombak indah
Senggiling, namun bukan dengan sampahmu. Tidak perlu harus ditakut-takuti
dengan hal mistis, hanya saja kau memang akan hanyut bila keasikan bermain
dengan ombak nya yang deras jadi, berhati-hatilah ketika bermain dengan
ombaknya, namun jangan suka bermain hati. Satu hal yang perlu kau ingat adalah,
jangan lupa pulang, karena kalau kau tidak pulang, kau akan merepotkan pihak
pengelola dan keluarga untuk mencarimu.”
Selamat
berlibur.
Salam,
-jewe
No comments:
Post a Comment