Saturday, June 2, 2018

Suka Duka Tinggal di Pulau Bintan




Sebentar lagi aku akan meninggalkan pulau ini. Pulau Bintan, pulau dimana dahulu ketika pertama kali tiba aku ingin membangun semua mimpiku disini. Banyak mimpi yang sudah aku tuliskan akan aku wujudkan di salah satu pulau terbesar di Provinsi Kepulauan Riau ini. Terletak di perbatasan 2 negara, Malaysia dan Singapura, pulau ini merupakan salah satu pulau terluar yang dimiliki Indonesia. Tadinya aku ingin membuat judul suka duka tinggal di pulau terluar Indonesia, namun aku berfikir, bahwa tidaklah cocok bagiku untuk menggeneralisasikan semua wilayah terluar Indonesia, karena beberapa faktor seperti kearifan lokal, letak geografis dan faktor lainnya yang sudah pasti berbeda dengan beberapa pulau terluar lainnya. Banyak suka duka yang kudapat selama berada dipulau ini. Beberapa diantaranya aku rangkum sebagai bentuk pengingat akan pulau ini. Namun sebelumnya, aku sebagai penulis ingin meminta maaf bila ada kata-kata yang bersifat provokatif didalam artikel ini. Tidak ada niat dari penulis untuk menjatuhkan instansi ataupun perorangan, ataupun niat penulis untuk membuka aib ataupun keburukan sebuah tempat. Ini murni sebagai catatan kaki milik penulis yang di publikasikan melalui blog pribadi. Catatan kaki yang merupakan rangkuman suka duka yang penulis rasakan selama berada dipulau ini. Beberapa diantaranya sebagai berikut.

Abaikan modelnya

Bebas Polusi
Hampir empat tahun aku berada di pulau ini. Pulau yang bentang geografisnya sebagian besar terdiri dari laut dan pulau-pulau kecil disekitarnya. Bentang geografis ini pula yang menjadikan pulau ini menjadi pusat pertahanan dari segi militer AL. Tidak terlalu sulit bagiku untuk beradaptasi di pulau ini termasuk beradaptasi dengan kondisi cuaca yang terbilang panas karena berada disekitaran pantai. Mungkin karena aku berasal dari kota besar sebelumnya, dimana suhu nya terbilang panas dikarenakan polusi udara dan kepadatan penduduk yang tinggi. Hal terbaik yang pertama yang ku rasakan ketika pertama kali aku berada dipulau ini. Aku fikir, pulau ini masih bebas dari polusi udara dan suara seperti halnya di kota besar tempatku sebelumnya. Bangun pagi disambut sinar surya dan langit cerah ditambah udara yang bersih, adalah situasi yang sangat dirindukan para penduduk kota. Dipulau ini, situasi tersebut sangat mudah dan bisa aku katakan bahwa aku mendapatkannya setiap pagi. Bila masyarakat kota sangat sulit untuk mencari tempat “nyaman” untuk olahraga, disini aku dapat jogging disekitaran lingkungan atau sekitaran pantai.
tak kenal waktu demi menafkahi buah hati

Pulau ini merupakan salah satu tujuan mereka yang ingin mencari kerja.
Dunia luar mungkin hanya mengenal Batam sebagai tempat untuk mencari kerja. Tidak jauh dari Pulau Batam, Pulau Bintan juga salah satu tempat investor asing menanamkan modalnya. Namun itu dahulu, sebelum krisis moneter menyerang Indonesia. Menurut cerita masyarakat setempat dan beberapa artikel yang kubaca, memang benar adanya, pulau ini dahulunya di penuhi ribuan karyawan swasta yang bekerja di perusahaan-perusahaan asing. Sebelum tahun 2000, banyak investor asing yang menanamkan modal di pulau ini, seperti tambang bauksit, tambang timah, tambang pasir, galangan kapal, manufacturing electronic dan investor terbesar adalah dari pengusaha garment. Jadi, bukan sebuah majas hiperbola bila menyebutkan para pekerja mencapai ribuan orang. Namun setelah era reformasi, satu per satu pengusaha tarik diri dan memindahkan perusahaan nya ke negara lain. Beberapa khawatir akan kestabilan negara, yang lain merasa tidak nyaman berbisnis di negara ini. Bangunan tua yang masih kokoh berdiri bekas perusahaan yang dahulunya menjadi penggerak ekonomi di pulau ini masih banyak ditemui. Bahkan beberapa tempat bekas tambang pasir, menjadi destinasi wisata yang sangat banyak dikunjungi dewasa ini. Walaupun semakin sedikit investor yang masih bertahan disini, namun minat pendatang yang ingin mencari kerja disini masih terbilang tinggi. Terutama setelah tahun kelulusan sekolah. Mereka yang selesai sekolah SMA, mencoba datang mencari peruntungan di pulau ini. Berharap saudara, teman, kerabat dan kenalan mereka yang mendahului, mampu membantu mencarikan pekerjaan.
mereka yang mengajarkan banyak hal

Minimnya pendidikan yang baik.
Pendidikan menjadi sorotan utamaku ketika aku tiba di pulau ini, karena sedari dahulu aku ingin berbakti kepada negeri melalui dunia pendidikan. Dan hal ini pun masuk kedalam daftar mimpi yang ingin ku bangun di pulau ini. Mungkin aku belum sepenuhnya terjun kedalam dunia pendidikan dikarenakan profesiku sendiri bukanlah seorang tenaga pengajar. Namun aku ingin turut andil dalam pembangunan negri dengan cara mendidik para generasi muda yang akan menjadi penerus. Yang kutemui di lapangan, (melalui anak didikku diluar jam sekolah), bahwa pendidikan disini terbilang masih tertinggal. Yang aku dapati bahwa sistem belajar mengajar yang kurang efektif mereka dapati di sekolah. Banyak dari mereka yang sedang mengecap pendidikan sekolah dasar masih kesulitan untuk membaca dan berhitung, sementara mereka sudah diharuskan mengecap pendidikan di TK sebelum SD agar mereka paham membaca dan berhitung. Mungkin alasan kurangnya fasilitas dan tenaga pengajar yang baik disini. Sebagian besar sekolah disini adalah sekolah negeri. Ditempat aku tinggal sendiri hanya ada satu sekolah swasta. (Bukan sebagai pembanding yang pasti), pendidikan yang baik disuatu daerah menurut aku, bila sekolah swasta sudah mulai berkembang di daerah tersebut. Sudah menjadi rahasia umum, fasilitas dan tenaga pengajar mungkin dapat dipenuhi oleh sekolah swasta. Disamping hal tersebut, menurutku orang tua terkesan tidak terlalu berambisi dalam pendidikan sianak. Masih banyak kutemui orang tua yang terkesan cuek dengan apa yang didapat si anak di sekolah.
kampung nelayan

Minimnya fasilitas kesehatan.
Fasilitas kesehatan sudah menjadi sebuah kebutuhan dewasa ini. Perkembangan jaman mungkin membuat manusia lebih gampang terkena penyakit. Cukup sulit mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik disini. Berbagi pengalaman pribadi, untuk mendapatkan praktek dokter gigi yang lengkap dan berintegritas sangatlah sulit. Aku bahkan harus pulang pergi dari tempat aku tinggal ke ibu kota (sekitar 100km) setiap minggu nya untuk perawatan gigi dikarenakan kesalahan ketika pertama kali menambal gigi disalah satu praktek dokter gigi disini. Sudahlah jatuh ketimpa tangga mungkin ungkapan tersebut cocok diberikan untukku. Dimana penambalan pertama aku telah menggeluarkan biaya yang terbilang sangat besar namun malah berdampak pada gusiku yang membengkak. Alhasil, aku harus pergi ke ibu kota setelah dirujuk dan menjalani perawatan berulang, (yang sampai artikel ini aku tuliskan, perawatannya masih belum selesai dan aku harus menahan malu karena menderita setengah ompong digigi depan). Ketidak percayaan akan dunia kesehatan semakin hari semakin tinggi disini. Mereka yang merasa mengalami gejala kesehatan yang tidak biasanya, lebih memilih untuk berobat ke salah satu rumah sakit swasta terbesar di Pulau Batam, atau pun ke rumah sakit di ibu kota, Tanjung Pinang. Mungkin saja tingkat KKN disini terbilang tinggi sehingga minimnya fasilitas dan tenaga medis yang berintegritas disini. Seorang teman yang berprofesi sebagai dokter disalah satu pulau tetangga, ketika berdiskusi mendukung pernyataanku. Bahkan dirinya yang tulus ingin mengabdi pun masih sering mendapat intimidasi. Alhasil (menurut pengakuannya), ia tidak tahan dengan keadaan dan memutuskan untuk pindah kedaerah lain.
Jembatan penghubung pulau
Diatas ibu kota

Destinasi wisata bahari
Bintan dewasa ini menjadi salah satu destinasi wisata bahari yang sedang dikembangkan oleh pemerintah setempat dan pemerintah pusat. Keseriusan pemerintah terlihat dari pembangunan jembatan penguhubung antar pulau dan pengembangan tempat-tempat yang menjadi objek wisata. Hal ini berdampak cukup baik terhadap diriku sendiri. Beberapa kali menjadi pemandu bagi teman-teman yang berkunjung kesini. Selain mendapatkan teman baru, aku pun bisa sekalian berlibur. Yah, walaupun dengan atau tanpa mereka aku sendiri dapat menjelajahi pulau ini. Sebagai catatan. Keindahan pulau ini dapat dinikmati dalam waktu yang singkat, tidak perlu waktu berminggu-minggu untuk menikmati tempat-tempat wisata di pulau ini. Dan juga harga berdarmawisata disini cukup terbilang murah (diluar penginapan dan transportasi yang relatif).
Senja dalam rona rindu 

Sepi namun tentram

Sulit signal
Dibeberapa tempat (sebagian besar pemukiman) masih sulit dijangkau oleh signal terutama signal internet yang dikota besar sudah mencapai 4G. Bila berlibur, biasakan tinggalkan pesan ke temanmu agar suatu ketika kamu tidak pulang, lebih mudah melacaknya. Hihihi.
halaman rumah impian

Danau Desa Lepan

Daerah perdangaan
Karena dekat dengan Singapura dan Malaysia, menjadikan Bintan sebagai tempat masuknya barang-barang dagangan seperti kebutuhan sehari-hari, elektronik, narkoba dan lainnya. Untuk hp dan alat elektronik dunia luar mengenal dengan sebutan barang BM (black market) banyak ditemui disini. Kebutuhan sehari-hari seperti product Malaysia barang non cukai pun mudah didapat disini. Untuk narkoba sendiri, seperti sabu-sabu dan putau pemasarannya sama seperti di kota besar, untuk ganja, sedikit sulit mendapatkannya. Untuk minuman keras berkelas internasional, mudah dan murah didapat disini. (Poin ini didapat dari berbagai sumber terkhususnya narkoba, karena penulis bukanlah seorang junkies hihihi)

Pelabuhan Tanjung Pinang di sendu malam

Minimnya transportasi massal
Tidak seperti daerah lainnya, disini tidak ada yang namanya angkot, delman, pedati ataupun alat transportasi umum kecuali ojek. Untuk tarif sendiri harus bernegosiasi dengan baik dengan bang ojek. Dikarenakan minimnya transportasi massal, setiap rumah tangga ataupun penduduk minimal memiliki satu sepeda motor sebagai kendaraan. Untuk transportasi antar pulau menggunakan speed boat atau kapal penyebrangan barang. Beberapa tempat sudah dihubungkan dengan jembatan.

Ada Ro-Ka (roro kayu) untuk membantu menyebrang

Budaya Melayu yang sangat kental
Sebagian besar penduduk pulau ini menurutku adalah pendatang (tanpa data dari kependudukan). Berdasarkan sejarahnya, aku menyimpulkan seperti itu. Dipulau ini aku untuk pertama kalinya bertemu dengan seseorang dari Suku Bugis, Flores, Palembang dan suku lain yang dari tempat asalku terbilang jarang bertemu dengan mereka. Walaupun banyak suku yang mendiami pulau ini, namun Budaya Melayu tidak lepas dari pulau ini. Bahkan cenderung para pendatang menyesuaikan diri dengan budaya setempat, terkhusus nya logat melayu yang kental disini. Cukup kesulitan bagiku yang bukan seorang polyglot untuk mengikuti logat khas Melayu disini hingga saat ini. Kebanyakan dari mereka yang aku ajak untuk ngobrol, mengaggap aku marah, dikarenakan nada bicaraku. Namun setelah mereka mengenalku lebih dekat, mereka baru menyadari bahwa hatiku sebenarnya selembut bika ambon walaupun cara bicaraku keras. *Ceilee

Laman Boenda untuk bunda dan calon bunda

Semua jenis buah ditimbang bila ingin dibeli
Cukup terkejut untuk pertema kali ketika musim durian dipulau ini aku harus mengeluarkan biaya cukup besar hanya untuk 2 buah durian. Semua itu dikarenakan buah durian yang hendak aku beli akan di timbang dahulu. Durian utuh lengkap dengan kulit, buah, biji dan tangkainya harus ditimbang dan aku bayar walaupun tidak aku makan. Begitulah disini, semua buah dijual per Kg.

Pertanian masyarakat

Aman dan Nyaman
Di poin terakhir aku ingin menutupnya dengan hal terbaik yang aku pikir tidak aku dapatkan didaerah lain. Disini sepeda motor dengan kunci masih tergantung dan di tinggal tidur di malam hari diluar rumah tidak akan hilang. Ketiduran dengan pintu terbuka pun tidak ada yang mengganggu. Kecuali lipan, ular ataupun kuntilanak dan tuyul hihihihi. Tidak kutemui pertikaian antar suku dan warga selama aku disini. Semuanya berjalan saling menghormati saling membantu saling menjaga dan saling memiliki (terkecuali memiliki istri dan pacar orang lain – salah satu alasan mengapa aku masih menyendiri karena tak dapat memiliki istri orang *bah).


Mungkin masih banyak lagi yang hal menarik yang aku dapati selama hampir empat tahun dipulau ini, seperti halnya harus menginap di Batam karena terlambat menyebrang, mendorong motor yang pecah ban beberapa kilometer karena sulitnya menjumpai bengkel, hujan yang tidak tentu disetiap tempat dan masih banyak lagi yang mungkin memerlukan beberapa halaman lagi untuk memaparkan nya satu per satu. Namun dari keseluruhan pengalaman, aku fikir pengalaman yang telah aku paparkan adalah hal yang paling sering terjadi ataupun yang paling membuat aku terkejut ketika berada di pulau ini.


Banyak cerita banyak pula canda tawa selama berada dipulau ini, pun dengan duka turut mewarnai perjalanan hidupku selama berada dipulau ini. Pulau dengan langit biru terindah di ujung cakrawala di pantai tersembunyi yang pernah aku nikmati membawa banyak dampak dalam perjalanan cerita hidupku. Banyak kisah yang tertoreh disetiap lekuk pulau ini yang mungkin akan dilupakan layaknya bekas galian bauksit. Ataupun akan terbuang seperti sampah plastik yang terapung dan terdampar hingga di bibir Pantai Senggiling. Ada cita ada cinta yang pernah mendamaikan dipulau ini, layaknya damai Desai Sei Lepan di pagi hari. Ada kekecewaan dan ada pula harapan yang selalu memenuhi benak seperti kabut yang senantiasa memenuhi puncak Gunung Bintan hingga ke kakinya. Dan dari semuanya itu, aku ingin mengabadikan dalam torehan kata sebagai pengigat dihari tua akan pulau ini atau sebagai peta harta karun untuk warisan penerusku.

Disela waktu yang membawa salam, cukup sulit bagiku untuk memilih apakah aku harus memilih “selamat tinggal” ataukah “sampai bertemu kembali” untuk mengakhiri pertemuan dan perjalananku saat ini dipulau ini. Karena dari semua kisah, memaksa aku untuk beranjak dari tempat ini. Dengan membawa utuh mimpi kembali dan harap aku dapat menghabiskan hari tua dipulau ini.
Nompang eksis

Selamat tinggal dan sampai bertemu kembali akar bakau tumpuan kaki. Selamat tinggal dan sampai bertemu kembali kabut tipis selimut hati. Selamat tinggal dan sampai bertemu kembali langit biru kanvas Ilahi. Selamat tinggal dan sampai bertemu kembali senja penuh arwah dan jiwa. Aku mungkin akan melupakanmu, namun setelahku akan datang dia yang kembali mencintaimu. Hingga waktunya tiba, tetap disitu tetap seperti itu, tetap milik bangsaku.
Lobam, 04/23/2018 - uploaded 06/02/2018

Dedikasi untuk mereka yang aku kasihi 
Untuk mereka yang menjadi bagian cerita dalam perjalananku dipulau ini
Untuk mereka yang mendidikku menjadi lebih kuat
Untuk mereka yang memotivasi melalui semua kisah hidupnya
Untuk sahabat terbaikku yang kukenang dalam tidur abadinya, -jewe





Tuesday, February 6, 2018

Menyapa Surya di Desa Lepan,


Aku mungkin bodoh menetukan alarm tadi malam, kalau akhirnya aku bangun sebelum alarm itu berbunyi. Aku bahkan tidak berniat bangun untuk mematikannya. Hanya saja aku tidak bisa tahan dengan suara bodohnya. Memikirkan semua ini sungguh menyusahkan. Seharusnya aku bisa tertidur hingga siang nanti. Beranjak lalu duduk menikmati suara bodoh dari alarm, otakku ternyata sudah mulai bekerja sesaat sebelum mataku terbuka hingga aku dalam keadaan sekarang ini. Kulirik jendela dari balik tirai, ternyata langit masih belum secerah mataku sementara otak ku terus berfikir apa yang harus aku lakukan sekarang.

Ku lirik jam di handphoneku sembari mematikan suara alarm yang sedari tadi berdering memenuhi kamarku. Pukul 6.30, masih terlalu pagi untuk beraktivitas, sementara angin utara yang berhembus sudah pasti membuat suhu diluar dingin untukku. Beranjak aku keluar kamar menyalakan kompor untuk menyeduh teh hangat pagi ini. Sepintas otakku yang sedari tadi bekerja seenak hatinya berhenti pada sebuah kesimpulan. Mengapa aku tidak ke Desa Sei Lepan saja pagi ini. Suasana pagi dingin ini pasti memiliki cerita sendiri di desa sepi itu. Segera badan yang bermalas-malasan bersemangat seolah mendapatkan energi baru. Ku persiapkan segalanya untuk keperluanku disana. Termos untuk menjaga hangat teh dan beberapa potong roti untuk ku menghabiskan sarapan disana.

Sekitar setengah jam berikutnya, motorku telah melaju di jalan raya Lobam, memacunya agar aku tidak terlalu telat tiba hingga disana. Walaupun pepatah mengatakan lebih baik telat dari pada tidak sama sekali, namun aku pikir aku trauma dengan kata “telat” ini. Bukan karena telat datang bulan, sementara aku adalah laki-laki. Hanya saja, terlambat mendapatkan sesuatu yang harusnya ku miliki cukup membuat aku selalu menyalahkan diri sendiri. Kalau orang bijak mengatakan, hanya orang yang bodoh yang terlalu berburu waktu. Aku mungkin terlalu bodoh mengikuti kata orang bijak itu. Aku selalu berfikir kalau aku selalu punya waktu, ternyata aku tidak. *ungkapan Buddha
Yah, aku fikir semua orang berhak untuk menentukan pilihannya, termasuk aku. Biarlah, mungkin aku lebih baik fokus untuk mengejar keterlambatanku, termasuk mengejar suasana pagi di Desa Sei Lepan. Desa sepi bekas peninggalan pasir, yang kini dihuni beberapa kepala keluarga yang mengharapkan penghasilan dari laut.


Desa ini dahulunya terpisah dari daratan Bintan. Untuk mencapai kesana harus menyebrangi selat dengan bantuan sejenis rakit yang hanya dapat memuat beberapa sepeda motor. Untuk biaya penyebrangan yang dahulunya dikenakan Rp 10.000, kini akhirnya semua orang dapat berlalu lalang kesana dengan mudah. Sebuah jembatan kecil untuk melintasnya sepeda motor dibangun untuk mempermudah akses menuju kesini. Keseriusan pemerintah setempat untuk memajukan desannya yang terkenal dengan Danau Biru yang tercipta setelah di tinggal penambang pasir.



Sepi dan damai, itu suasana yang pertama sekali ku rasakan ketika tiba di desa ini. Masyarakatnya yang ramah dan mudah senyum ketika berpapasan denganku saat aku mencoba mengabadikan suasana di desa ini. Menghabiskan potongan roti ditemani teh hangat sembari menatap jauh kedepan agar lebih menyatu dengan alam sekitar. Fikiran jernih yang kudapatkan sementara aku mengenang setiap perjalanan yang telah aku lalui selama di tahun 2017. Setahun yang lalu segalanya sungguh berbeda, dan sekarang, ketika aku melihat kembali, aku menyadari bahwa setahun dapat berarti banyak bagi setiap orang.

Selamat datang di Desa Sei Lepan. Desa tenang tersembunyi di Bintan yang memberikan ketenangan bagi pengunjungnya. Hargai dimana kakimu berpijak agar engkau pun dihargai disana. Jaga kebersihannya seperti engkau menjaga kebersihan tubuhmu. Bersikap ramahlah pada mereka karena mereka adalah tuan rumah yang menyediakan tempat untukmu melepas penat dari hiruk pikuk duniamu. Bersenang-senanglah dan jangan lupa untuk pulang.

-jewe

Monday, January 29, 2018

Senggiling, Surga Tersembunyi yang Ternodai.


Lobam, 6 January 2018.
Pagi yang cerah diawal tahun baru di musim penghujan, membuat aku segera bergegas dari tempat tidurku sesaat setelah kulirik deras cahaya mentari yang masuk melalui kaca nako kamar tempatku tinggal. Mata sayu, karena merasa kurang puas tidur segera berbinar melihat cahaya yang menerobos kamar tidurku. Bangkit dan memastikan keadaan sesungguhnya keluar rumah, sontak berteriak didalam hati dan segera aku berkemas mandi dan mempersiapkan petualangan hari ini.

Keahlian tangan seribu pun bekerja disaat-saat seperti ini. Bagaimana tidak, setelah telat tidur malam, aku harus bangun kesiangan di pagi secerah ini. Sembari menunggu air mendidih, mandi secepat mungkin, mempersiapkan beberapa potong roti, secangkir teh hangat, sebotol air minum, periksa kelengkapan motret, aku berangkat sesegera mungkin ke sebuah tujuan yang telah lama ingin aku tuju.

Senggiling, sebuah desa yang terkenal dengan pantai indahnya, kesanalah tujuanku. Sebuah tempat yang sengaja tidak ku kunjungi lagi setelah kunjungan pertama selama berada di pulau ini hanya karena ingin menantikan orang yang tepat sebagai temanku menjelajah nya. Terlalu lama aku menantinya, sementara waktu untuk ku tinggal di pulau ini tinggal hitungan hari. Aku pikir, kesempatan hari ini akan menjadi kesempatan terakhirku untuk mengunjungi pantai ini. Tanpa persiapan (dimusim hujan, intensitas hujan tinggi di pulau ini, sulit memprediksi cerah dan mendungnya, sesulit memprediksi isi hatimu), tanpa teman (tadinya aku ingin bersamamu, namun mungkin bayangmu yang ku bawa).

Desa Senggiling, berada di Desa Sri Bintan, Kecamatan Teluk Sebong Kabupaten Bintan, merupakan desa kecil yang masih terjaga kelestarian alamnya. Untuk mencapai desa ini tidaklah terlalu sulit di era teknologi yang sekarang ini ditambah jalanan yang dilalui juga terbilang bagus.

Namun itu hanya sampai didesa nya saja. Tidak bila kamu ingin menuju pantainya. Pantai senggiling tertutup dari dunia luar, dikarenakan tanah nya merupakan milik perusahaan swasta. Kamu harus meninggalkan kartu tanda pengenal di pos security sebelum memasuki daerahnya menuju pantai. Aku pikir, selain sebagai jaminan bagi pihak pengelola, meninggalkan kartu tanda pengenal juga baik bila suatu saat ada mereka yang tersesat ketika ingin menuju lokasi pantai.
“Sendiri aja bang?” sapa salah satu security sesaat setelah ku parkirkan motor.
“hehehe, iya boncengannya lagi merajuk ga mau ikut pak?” jawabku bercanda menanggapi.
“Udah pernah ke dalam sebelumnya?” Tanya nya kembali.
“Sudah pak, ini yang kesekian kalinya.” Jawabku meyakinkan mereka sembari menyerahkan KTP.

Setelah berbasa basi sekenanya aku berangkat menyusuri jalanan berbatu kawasan perkebunan milik swasta pengelola tempat . Ini kali kedua aku mengunjungi tempat ini, jalanannya sudah jauh lebih baik dari pertama kali aku kesini. Buktinya aku bisa melamunkan wajah indah sepanjang jalan ini. Hanya ditemui beberapa genangan lumpur yang mengharuskan aku turun dari sepeda motor untuk melalui nya.

Pantai pasir putih, sebagai tempat pelestarian penyu yang terkenal dengan ombaknya melunturkan seketika lelah perjalanan pun dengan lelah hati. Pasir putih, ombak dan jejeran batu besar menjadi ciri khas indah pantai ini. Oh iya, satu lagi, ciri khas pantai ini adalah “sampah”.


Menjengkelkan memang melihat keadaan sesungguhnya bahwa surga tersembunyi ini ternodai oleh sampah. Berbeda dengan panta-pantai disejajaran garis Pantai Senggiling ini, kamu tidak akan menjumpai sampah di pantainya langsung, namun di bibir pantai batas pasang tertinggi air laut di pantai ini.

Aku dapat menyimpulkan bahwa ini semua sampah kiriman dari tetangga sekitar hanya dengan 2 alasan. Alasan pertama bahwa akses ke pantai ini sangat sulit. jadi orang-orang lebay yang pengetahuannya hanya sebatas foto dan posting ke media sosial malas menuju tempat ini. Jadi pantai ini sepi pengunjungnya. Itu menjadi alasan pertama dan yang terkuat, alasan lainnya adalah bahwa sampah hanya ditemui di bibir pantai batas tertinggi air pasang, dimana sampah plastik tersebut terhanyut dan terdampar hingga ke bibir pantai. Berbeda dengan pantai sebelah, yang kamu akan dengan mudahnya menemukan sampah bahkan dihampir keseluruhan pantai.

Cukup menjengkelkan, bahkan mengingatnya ketika menuliskan ini cukup membuat emosiku sedikit meluap. Namun biarlah begitu, aku sendiri bahkan tidak tahu harus bagaimana dengan sampah-sampah itu. Hanya saja masyarakat kita memang masih rendah kesadaaran akan keindahan dan kebersihan. Aku kesini ingin bersenang-senang, melepas kejenuhan dari sumpah serapah dan omong kosong di keseharianku. Membuang kepenatan sembari merevisi ulang apa yang harus aku capai di tahun 2018 dan apa yang sudah terjadi di 2017. Bukankah ini tahun baru? Bukankah seharusnya ada hal baru selain harus membahas tentang politik, pekerjaan, profesi, uang, sampah, masa depan, ego?

Kunjungan kedua sekaligus kunjungan terakhir ke pantai ini menghadiahkan diksi baru dari pikiranku. Dimana, diksi samar yang telah lama selalu berputar di kepalaku akhirnya tertuang dalam selembar kertas. Aku pikir Semesta cukup adil dalam bait ini, Ia memberikanku sehari saja hari yang cerah untuk mengenang kau yang selalu indah. Ia pun memberikan serta rindu bersama tarian ombak yang menemaniku pengganti hadirmu dan menyapa aku ketika beradu oleh tiupan angin utara. Ia cukup adil ketika memberikan rindu ini untukku, dan memberikan waktu untukmu.

Sebait kalimat bagimu yang ingin berkunjung ke Pantai Senggiling,
“Yang menarik dari sebuah foto ialah bahwa ia tidak akan pernah berubah, walaupun objek di dalamnya berubah. Namun kau mampu memilih apakah ingin berubah menjadi lebih indah atau tidak. Biarlah kenangan yang kau hanyutkan dalam ombak indah Senggiling, namun bukan dengan sampahmu. Tidak perlu harus ditakut-takuti dengan hal mistis, hanya saja kau memang akan hanyut bila keasikan bermain dengan ombak nya yang deras jadi, berhati-hatilah ketika bermain dengan ombaknya, namun jangan suka bermain hati. Satu hal yang perlu kau ingat adalah, jangan lupa pulang, karena kalau kau tidak pulang, kau akan merepotkan pihak pengelola dan keluarga untuk mencarimu.”
Selamat berlibur.
Salam,

-jewe