Foto hanya ilustrasi
Banyak
dari mereka mengatakan segala sesuatunya dalam hidup ini sudah diatur oleh
takdir dan kita terikat dan dikekang oleh nya. Mereka katakan bahwa derita
mereka adalah karena takdir, mereka katakan kebahagiaan mereka pun telah diatur
oleh takdir. Seolah – olah setiap gerak langkah dan jejak langkah mereka itu
terikat dengan takdir. Takdir seolah berkuasa penuh dalam perjalanan hidup
mereka dan tidak pernah meninggalkan mereka. Apakah hidup memang seperti itu? Ataukah
kita yang hanya berpasrah pada takdir dalam hidup ini?
Sering
kali pertanyaan itu menggema di kepalaku terutama saat aku duduk diam sendiri
di kesunyian dan keheningan alam. Apakah memang aku ini hidup untuk terpenjara
dalam takdir itu sendiri? Lalu apa arti hidup itu sendiri bila untuk hidup saja
aku tidak bebas menentukan pilihanku. Tanpa mengesampingkan Sang Khalik
penguasa semesta, terkadang takdir merupakan sesuatu hal yang lucu bagiku. Begitu
kejamnya Semesta menakdirkan bahwa aku akan hidup selamanya dalam kemalangan
sementara temanku dalam kelimpahan. Atau, betapa tidak adilnya Semesta
menakdirkan bahwa aku akan hidup bahagia selamanya sementara temanku selalu
dirundung kemalangan. Sesuatu hal yang lucu untuk dibahas dan diputar-putar
pertanyaan itu didalam kepala ini.
Aku
pikir aku ini adalah mahkluk ciptaanNya yang paling istimewa dibanding
ciptaanNya yang lain. Lalu apa bedanya diriku dengan air yang mengalir dari
tempat yang lebih tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah. Lalu apa bedanya
aku dengan kupu-kupu yang hanya bertahan beberapa hari sebelum akhirnya
bereproduksi lalu mati. Bila takdir selalu mengikat gerak langkah dan tubuhku,
lalu apa bedanya aku dengan mahkluk ciptaan lainnya? Cukup lama pertanyaan
seputar takdir itu berkutat di kepala otakku, hingga aku tiba di sebuah
kesimpulan dari pemahaman aku sendiri bahwa takdir itu sebuah penghambat gerak
langkahku. Aku tiba pada kesimpulan bahwa aku hanya ditakdirkan untuk terlahir
dan mati. Diantara kedua takdir itu merupakan pilihanku. Aku mempunyai nalar
dalam melangkah, aku mempunyai akal dalam bertindak dan aku mempunyai hati
dalam memutuskan terhadap apa yang hendak aku lakukan, siapa yang ingin aku
temui, kemana aku akan melangkah, kapan aku harus bertindak dan bagaimana
harusnya aku menyikapi setiap pilihanku. Takdir sendiri tidak berhak atas
setiap pilihan yang aku tetapkan karena takdir itu sendiri tidak berkuasa akan
semesta langit dan bumi pun dengan diriku.
Seperti
kesimpulan dari pemahaman pikiran ku sendiri, bahwa takdir merupakan penghambat
gerak langkahku. Aku pikir takdir itu merupakan sebuah doktrin yang tertanam
dari generasi ke generasi agar mungkin pasrah menerima sebuah keadaan dan
kenyataan. Doktrin yang melemahkan langkah seseorang saat dia ingin menantang
dunia. Berfikir bahwa ia sudah ditakdirkan untuk tidak menjadi apa-apa dan tetap
dalam keterpurukan sendiri. Tanpa sadar ternyata ia memutuskan pilihan bahwa ia
ingin tetap dalam keterpurukan. Aku melihat bahwa itu adalah buah dari
pilihannya, bukan takdirnya. Bahkan seeokor ikan kecil yang ku temui di sebuah
curug. berusaha untuk menantang arus yang telah membawanya jauh dari sarangnya.
Ataupun ia berusaha untuk menantang arus air menuju tempat baru yang menurut
insting nya menyediakan makanan yang cukup bagi dirinya.
Mereka
bilang, segala sesuatunya adalah takdir sementara takdir itu sendiri hanya
terjadi dua kali dalam hidupnya. Dan aku, aku akan tetap menjadi ikan kecil
yang menantang arus curug yang biasa mereka sebut takdir. Memilih berenang
bebas menantang, apa yang hendak aku lakukan, siapa yang ingin aku temui,
kemana aku akan melangkah, kapan aku harus bertindak dan bagaimana harusnya aku
menyikapi setiap pilihanku daripada berdiam diri dan berpasrah hanyut dimakan
oleh takdir kedua. -jewe
Lobam,
11/13/2017
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti tantangan 10 hari menulis di bulan November bersama beberapa teman pecinta sastra.
Ini murni opini penulis tanpa ada niat untuk mempengaruhi ataupun menjadikan opini ini sebagai bahan perdebatan.
#Novemberwrite #10dayswrite
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti tantangan 10 hari menulis di bulan November bersama beberapa teman pecinta sastra.
Ini murni opini penulis tanpa ada niat untuk mempengaruhi ataupun menjadikan opini ini sebagai bahan perdebatan.
#Novemberwrite #10dayswrite
No comments:
Post a Comment