Monday, November 13, 2017

Segala sesuatunya adalah takdir

Foto hanya ilustrasi
Banyak dari mereka mengatakan segala sesuatunya dalam hidup ini sudah diatur oleh takdir dan kita terikat dan dikekang oleh nya. Mereka katakan bahwa derita mereka adalah karena takdir, mereka katakan kebahagiaan mereka pun telah diatur oleh takdir. Seolah – olah setiap gerak langkah dan jejak langkah mereka itu terikat dengan takdir. Takdir seolah berkuasa penuh dalam perjalanan hidup mereka dan tidak pernah meninggalkan mereka. Apakah hidup memang seperti itu? Ataukah kita yang hanya berpasrah pada takdir dalam hidup ini?
Sering kali pertanyaan itu menggema di kepalaku terutama saat aku duduk diam sendiri di kesunyian dan keheningan alam. Apakah memang aku ini hidup untuk terpenjara dalam takdir itu sendiri? Lalu apa arti hidup itu sendiri bila untuk hidup saja aku tidak bebas menentukan pilihanku. Tanpa mengesampingkan Sang Khalik penguasa semesta, terkadang takdir merupakan sesuatu hal yang lucu bagiku. Begitu kejamnya Semesta menakdirkan bahwa aku akan hidup selamanya dalam kemalangan sementara temanku dalam kelimpahan. Atau, betapa tidak adilnya Semesta menakdirkan bahwa aku akan hidup bahagia selamanya sementara temanku selalu dirundung kemalangan. Sesuatu hal yang lucu untuk dibahas dan diputar-putar pertanyaan itu didalam kepala ini.
Aku pikir aku ini adalah mahkluk ciptaanNya yang paling istimewa dibanding ciptaanNya yang lain. Lalu apa bedanya diriku dengan air yang mengalir dari tempat yang lebih tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah. Lalu apa bedanya aku dengan kupu-kupu yang hanya bertahan beberapa hari sebelum akhirnya bereproduksi lalu mati. Bila takdir selalu mengikat gerak langkah dan tubuhku, lalu apa bedanya aku dengan mahkluk ciptaan lainnya? Cukup lama pertanyaan seputar takdir itu berkutat di kepala otakku, hingga aku tiba di sebuah kesimpulan dari pemahaman aku sendiri bahwa takdir itu sebuah penghambat gerak langkahku. Aku tiba pada kesimpulan bahwa aku hanya ditakdirkan untuk terlahir dan mati. Diantara kedua takdir itu merupakan pilihanku. Aku mempunyai nalar dalam melangkah, aku mempunyai akal dalam bertindak dan aku mempunyai hati dalam memutuskan terhadap apa yang hendak aku lakukan, siapa yang ingin aku temui, kemana aku akan melangkah, kapan aku harus bertindak dan bagaimana harusnya aku menyikapi setiap pilihanku. Takdir sendiri tidak berhak atas setiap pilihan yang aku tetapkan karena takdir itu sendiri tidak berkuasa akan semesta langit dan bumi pun dengan diriku.
Seperti kesimpulan dari pemahaman pikiran ku sendiri, bahwa takdir merupakan penghambat gerak langkahku. Aku pikir takdir itu merupakan sebuah doktrin yang tertanam dari generasi ke generasi agar mungkin pasrah menerima sebuah keadaan dan kenyataan. Doktrin yang melemahkan langkah seseorang saat dia ingin menantang dunia. Berfikir bahwa ia sudah ditakdirkan untuk tidak menjadi apa-apa dan tetap dalam keterpurukan sendiri. Tanpa sadar ternyata ia memutuskan pilihan bahwa ia ingin tetap dalam keterpurukan. Aku melihat bahwa itu adalah buah dari pilihannya, bukan takdirnya. Bahkan seeokor ikan kecil yang ku temui di sebuah curug. berusaha untuk menantang arus yang telah membawanya jauh dari sarangnya. Ataupun ia berusaha untuk menantang arus air menuju tempat baru yang menurut insting nya menyediakan makanan yang cukup bagi dirinya.
Mereka bilang, segala sesuatunya adalah takdir sementara takdir itu sendiri hanya terjadi dua kali dalam hidupnya. Dan aku, aku akan tetap menjadi ikan kecil yang menantang arus curug yang biasa mereka sebut takdir. Memilih berenang bebas menantang, apa yang hendak aku lakukan, siapa yang ingin aku temui, kemana aku akan melangkah, kapan aku harus bertindak dan bagaimana harusnya aku menyikapi setiap pilihanku daripada berdiam diri dan berpasrah hanyut dimakan oleh takdir kedua. -jewe
Lobam, 11/13/2017
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti tantangan 10 hari menulis di bulan November bersama beberapa teman pecinta sastra.
Ini murni opini penulis tanpa ada niat untuk mempengaruhi ataupun menjadikan opini ini sebagai bahan perdebatan.
#Novemberwrite #10dayswrite