Sebentar
lagi aku akan meninggalkan pulau ini. Pulau Bintan, pulau dimana dahulu ketika
pertama kali tiba aku ingin membangun semua mimpiku disini. Banyak mimpi yang
sudah aku tuliskan akan aku wujudkan di salah satu pulau terbesar di Provinsi
Kepulauan Riau ini. Terletak di perbatasan 2 negara, Malaysia dan Singapura,
pulau ini merupakan salah satu pulau terluar yang dimiliki Indonesia. Tadinya
aku ingin membuat judul suka duka tinggal di pulau terluar Indonesia, namun aku
berfikir, bahwa tidaklah cocok bagiku untuk menggeneralisasikan semua wilayah
terluar Indonesia, karena beberapa faktor seperti kearifan lokal, letak
geografis dan faktor lainnya yang sudah pasti berbeda dengan beberapa pulau
terluar lainnya. Banyak suka duka yang kudapat selama berada dipulau ini.
Beberapa diantaranya aku rangkum sebagai bentuk pengingat akan pulau ini. Namun
sebelumnya, aku sebagai penulis ingin meminta maaf bila ada kata-kata yang
bersifat provokatif didalam artikel ini. Tidak ada niat dari penulis untuk
menjatuhkan instansi ataupun perorangan, ataupun niat penulis untuk membuka aib
ataupun keburukan sebuah tempat. Ini murni sebagai catatan kaki milik penulis
yang di publikasikan melalui blog pribadi. Catatan kaki yang merupakan
rangkuman suka duka yang penulis rasakan selama berada dipulau ini. Beberapa
diantaranya sebagai berikut.
Abaikan modelnya
Bebas
Polusi
Hampir
empat tahun aku berada di pulau ini. Pulau yang bentang geografisnya sebagian
besar terdiri dari laut dan pulau-pulau kecil disekitarnya. Bentang geografis
ini pula yang menjadikan pulau ini menjadi pusat pertahanan dari segi militer
AL. Tidak terlalu sulit bagiku untuk beradaptasi di pulau ini termasuk
beradaptasi dengan kondisi cuaca yang terbilang panas karena berada disekitaran
pantai. Mungkin karena aku berasal dari kota besar sebelumnya, dimana suhu nya
terbilang panas dikarenakan polusi udara dan kepadatan penduduk yang tinggi.
Hal terbaik yang pertama yang ku rasakan ketika pertama kali aku berada dipulau
ini. Aku fikir, pulau ini masih bebas dari polusi udara dan suara seperti
halnya di kota besar tempatku sebelumnya. Bangun pagi disambut sinar surya dan
langit cerah ditambah udara yang bersih, adalah situasi yang sangat dirindukan
para penduduk kota. Dipulau ini, situasi tersebut sangat mudah dan bisa aku
katakan bahwa aku mendapatkannya setiap pagi. Bila masyarakat kota sangat sulit
untuk mencari tempat “nyaman” untuk olahraga, disini aku dapat jogging
disekitaran lingkungan atau sekitaran pantai.
tak kenal waktu demi menafkahi buah hati
Pulau
ini merupakan salah satu tujuan mereka yang ingin mencari kerja.
Dunia
luar mungkin hanya mengenal Batam sebagai tempat untuk mencari kerja. Tidak
jauh dari Pulau Batam, Pulau Bintan juga salah satu tempat investor asing
menanamkan modalnya. Namun itu dahulu, sebelum krisis moneter menyerang
Indonesia. Menurut cerita masyarakat setempat dan beberapa artikel yang kubaca,
memang benar adanya, pulau ini dahulunya di penuhi ribuan karyawan swasta yang
bekerja di perusahaan-perusahaan asing. Sebelum tahun 2000, banyak investor
asing yang menanamkan modal di pulau ini, seperti tambang bauksit, tambang
timah, tambang pasir, galangan kapal, manufacturing electronic dan investor
terbesar adalah dari pengusaha garment. Jadi, bukan sebuah majas hiperbola bila
menyebutkan para pekerja mencapai ribuan orang. Namun setelah era reformasi,
satu per satu pengusaha tarik diri dan memindahkan perusahaan nya ke negara
lain. Beberapa khawatir akan kestabilan negara, yang lain merasa tidak nyaman
berbisnis di negara ini. Bangunan tua yang masih kokoh berdiri bekas perusahaan
yang dahulunya menjadi penggerak ekonomi di pulau ini masih banyak ditemui.
Bahkan beberapa tempat bekas tambang pasir, menjadi destinasi wisata yang
sangat banyak dikunjungi dewasa ini. Walaupun semakin sedikit investor yang
masih bertahan disini, namun minat pendatang yang ingin mencari kerja disini
masih terbilang tinggi. Terutama setelah tahun kelulusan sekolah. Mereka yang
selesai sekolah SMA, mencoba datang mencari peruntungan di pulau ini. Berharap
saudara, teman, kerabat dan kenalan mereka yang mendahului, mampu membantu
mencarikan pekerjaan.
mereka yang mengajarkan banyak hal
Minimnya
pendidikan yang baik.
Pendidikan
menjadi sorotan utamaku ketika aku tiba di pulau ini, karena sedari dahulu aku
ingin berbakti kepada negeri melalui dunia pendidikan. Dan hal ini pun masuk
kedalam daftar mimpi yang ingin ku bangun di pulau ini. Mungkin aku belum
sepenuhnya terjun kedalam dunia pendidikan dikarenakan profesiku sendiri
bukanlah seorang tenaga pengajar. Namun aku ingin turut andil dalam pembangunan
negri dengan cara mendidik para generasi muda yang akan menjadi penerus. Yang
kutemui di lapangan, (melalui anak didikku diluar jam sekolah), bahwa
pendidikan disini terbilang masih tertinggal. Yang aku dapati bahwa sistem
belajar mengajar yang kurang efektif mereka dapati di sekolah. Banyak dari
mereka yang sedang mengecap pendidikan sekolah dasar masih kesulitan untuk
membaca dan berhitung, sementara mereka sudah diharuskan mengecap pendidikan di
TK sebelum SD agar mereka paham membaca dan berhitung. Mungkin alasan kurangnya
fasilitas dan tenaga pengajar yang baik disini. Sebagian besar sekolah disini
adalah sekolah negeri. Ditempat aku tinggal sendiri hanya ada satu sekolah
swasta. (Bukan sebagai pembanding yang pasti), pendidikan yang baik disuatu
daerah menurut aku, bila sekolah swasta sudah mulai berkembang di daerah
tersebut. Sudah menjadi rahasia umum, fasilitas dan tenaga pengajar mungkin
dapat dipenuhi oleh sekolah swasta. Disamping hal tersebut, menurutku orang tua
terkesan tidak terlalu berambisi dalam pendidikan sianak. Masih banyak kutemui
orang tua yang terkesan cuek dengan apa yang didapat si anak di sekolah.
kampung nelayan
Minimnya
fasilitas kesehatan.
Fasilitas
kesehatan sudah menjadi sebuah kebutuhan dewasa ini. Perkembangan jaman mungkin
membuat manusia lebih gampang terkena penyakit. Cukup sulit mendapatkan pelayanan
kesehatan yang baik disini. Berbagi pengalaman pribadi, untuk mendapatkan
praktek dokter gigi yang lengkap dan berintegritas sangatlah sulit. Aku bahkan
harus pulang pergi dari tempat aku tinggal ke ibu kota (sekitar 100km) setiap
minggu nya untuk perawatan gigi dikarenakan kesalahan ketika pertama kali
menambal gigi disalah satu praktek dokter gigi disini. Sudahlah jatuh ketimpa
tangga mungkin ungkapan tersebut cocok diberikan untukku. Dimana penambalan
pertama aku telah menggeluarkan biaya yang terbilang sangat besar namun malah
berdampak pada gusiku yang membengkak. Alhasil, aku harus pergi ke ibu kota
setelah dirujuk dan menjalani perawatan berulang, (yang sampai artikel ini aku
tuliskan, perawatannya masih belum selesai dan aku harus menahan malu karena
menderita setengah ompong digigi depan). Ketidak percayaan akan dunia kesehatan
semakin hari semakin tinggi disini. Mereka yang merasa mengalami gejala
kesehatan yang tidak biasanya, lebih memilih untuk berobat ke salah satu rumah
sakit swasta terbesar di Pulau Batam, atau pun ke rumah sakit di ibu kota,
Tanjung Pinang. Mungkin saja tingkat KKN disini terbilang tinggi sehingga
minimnya fasilitas dan tenaga medis yang berintegritas disini. Seorang teman
yang berprofesi sebagai dokter disalah satu pulau tetangga, ketika berdiskusi
mendukung pernyataanku. Bahkan dirinya yang tulus ingin mengabdi pun masih
sering mendapat intimidasi. Alhasil (menurut pengakuannya), ia tidak tahan
dengan keadaan dan memutuskan untuk pindah kedaerah lain.
Jembatan penghubung pulau
Diatas ibu kota
Destinasi
wisata bahari
Bintan
dewasa ini menjadi salah satu destinasi wisata bahari yang sedang dikembangkan
oleh pemerintah setempat dan pemerintah pusat. Keseriusan pemerintah terlihat
dari pembangunan jembatan penguhubung antar pulau dan pengembangan
tempat-tempat yang menjadi objek wisata. Hal ini berdampak cukup baik terhadap
diriku sendiri. Beberapa kali menjadi pemandu bagi teman-teman yang berkunjung
kesini. Selain mendapatkan teman baru, aku pun bisa sekalian berlibur. Yah,
walaupun dengan atau tanpa mereka aku sendiri dapat menjelajahi pulau ini.
Sebagai catatan. Keindahan pulau ini dapat dinikmati dalam waktu yang singkat,
tidak perlu waktu berminggu-minggu untuk menikmati tempat-tempat wisata di
pulau ini. Dan juga harga berdarmawisata disini cukup terbilang murah (diluar
penginapan dan transportasi yang relatif).
Senja dalam rona rindu
Sepi namun tentram
Sulit
signal
Dibeberapa
tempat (sebagian besar pemukiman) masih sulit dijangkau oleh signal terutama
signal internet yang dikota besar sudah mencapai 4G. Bila berlibur, biasakan
tinggalkan pesan ke temanmu agar suatu ketika kamu tidak pulang, lebih mudah
melacaknya. Hihihi.
halaman rumah impian
Danau Desa Lepan
Daerah
perdangaan
Karena
dekat dengan Singapura dan Malaysia, menjadikan Bintan sebagai tempat masuknya
barang-barang dagangan seperti kebutuhan sehari-hari, elektronik, narkoba dan
lainnya. Untuk hp dan alat elektronik dunia luar mengenal dengan sebutan barang
BM (black market) banyak ditemui disini. Kebutuhan sehari-hari seperti product
Malaysia barang non cukai pun mudah didapat disini. Untuk narkoba sendiri,
seperti sabu-sabu dan putau pemasarannya sama seperti di kota besar, untuk
ganja, sedikit sulit mendapatkannya. Untuk minuman keras berkelas
internasional, mudah dan murah didapat disini. (Poin ini didapat dari berbagai
sumber terkhususnya narkoba, karena penulis bukanlah seorang junkies hihihi)
Pelabuhan Tanjung Pinang di sendu malam
Minimnya
transportasi massal
Tidak
seperti daerah lainnya, disini tidak ada yang namanya angkot, delman, pedati
ataupun alat transportasi umum kecuali ojek. Untuk tarif sendiri harus
bernegosiasi dengan baik dengan bang ojek. Dikarenakan minimnya transportasi
massal, setiap rumah tangga ataupun penduduk minimal memiliki satu sepeda motor
sebagai kendaraan. Untuk transportasi antar pulau menggunakan speed boat atau
kapal penyebrangan barang. Beberapa tempat sudah dihubungkan dengan jembatan.
Ada Ro-Ka (roro kayu) untuk membantu menyebrang
Budaya
Melayu yang sangat kental
Sebagian
besar penduduk pulau ini menurutku adalah pendatang (tanpa data dari
kependudukan). Berdasarkan sejarahnya, aku menyimpulkan seperti itu. Dipulau
ini aku untuk pertama kalinya bertemu dengan seseorang dari Suku Bugis, Flores,
Palembang dan suku lain yang dari tempat asalku terbilang jarang bertemu dengan
mereka. Walaupun banyak suku yang mendiami pulau ini, namun Budaya Melayu tidak
lepas dari pulau ini. Bahkan cenderung para pendatang menyesuaikan diri dengan
budaya setempat, terkhusus nya logat melayu yang kental disini. Cukup kesulitan
bagiku yang bukan seorang polyglot untuk mengikuti logat khas Melayu disini
hingga saat ini. Kebanyakan dari mereka yang aku ajak untuk ngobrol, mengaggap
aku marah, dikarenakan nada bicaraku. Namun setelah mereka mengenalku lebih
dekat, mereka baru menyadari bahwa hatiku sebenarnya selembut bika ambon
walaupun cara bicaraku keras. *Ceilee
Laman Boenda untuk bunda dan calon bunda
Semua
jenis buah ditimbang bila ingin dibeli
Cukup
terkejut untuk pertema kali ketika musim durian dipulau ini aku harus
mengeluarkan biaya cukup besar hanya untuk 2 buah durian. Semua itu dikarenakan
buah durian yang hendak aku beli akan di timbang dahulu. Durian utuh lengkap
dengan kulit, buah, biji dan tangkainya harus ditimbang dan aku bayar walaupun
tidak aku makan. Begitulah disini, semua buah dijual per Kg.
Pertanian masyarakat
Aman
dan Nyaman
Di
poin terakhir aku ingin menutupnya dengan hal terbaik yang aku pikir tidak aku
dapatkan didaerah lain. Disini sepeda motor dengan kunci masih tergantung dan
di tinggal tidur di malam hari diluar rumah tidak akan hilang. Ketiduran dengan
pintu terbuka pun tidak ada yang mengganggu. Kecuali lipan, ular ataupun
kuntilanak dan tuyul hihihihi. Tidak kutemui pertikaian antar suku dan warga
selama aku disini. Semuanya berjalan saling menghormati saling membantu saling
menjaga dan saling memiliki (terkecuali memiliki istri dan pacar orang lain –
salah satu alasan mengapa aku masih menyendiri karena tak dapat memiliki istri
orang *bah).
Mungkin
masih banyak lagi yang hal menarik yang aku dapati selama hampir empat tahun
dipulau ini, seperti halnya harus menginap di Batam karena terlambat
menyebrang, mendorong motor yang pecah ban beberapa kilometer karena sulitnya
menjumpai bengkel, hujan yang tidak tentu disetiap tempat dan masih banyak lagi
yang mungkin memerlukan beberapa halaman lagi untuk memaparkan nya satu per
satu. Namun dari keseluruhan pengalaman, aku fikir pengalaman yang telah aku
paparkan adalah hal yang paling sering terjadi ataupun yang paling membuat aku
terkejut ketika berada di pulau ini.
Banyak
cerita banyak pula canda tawa selama berada dipulau ini, pun dengan duka turut
mewarnai perjalanan hidupku selama berada dipulau ini. Pulau dengan langit biru
terindah di ujung cakrawala di pantai tersembunyi yang pernah aku nikmati
membawa banyak dampak dalam perjalanan cerita hidupku. Banyak kisah yang
tertoreh disetiap lekuk pulau ini yang mungkin akan dilupakan layaknya bekas
galian bauksit. Ataupun akan terbuang seperti sampah plastik yang terapung dan
terdampar hingga di bibir Pantai Senggiling. Ada cita ada cinta yang pernah
mendamaikan dipulau ini, layaknya damai Desai Sei Lepan di pagi hari. Ada
kekecewaan dan ada pula harapan yang selalu memenuhi benak seperti kabut yang
senantiasa memenuhi puncak Gunung Bintan hingga ke kakinya. Dan dari semuanya
itu, aku ingin mengabadikan dalam torehan kata sebagai pengigat dihari tua akan
pulau ini atau sebagai peta harta karun untuk warisan penerusku.
Disela
waktu yang membawa salam, cukup sulit bagiku untuk memilih apakah aku harus
memilih “selamat tinggal” ataukah “sampai bertemu kembali” untuk mengakhiri
pertemuan dan perjalananku saat ini dipulau ini. Karena dari semua kisah,
memaksa aku untuk beranjak dari tempat ini. Dengan membawa utuh mimpi kembali
dan harap aku dapat menghabiskan hari tua dipulau ini.
Nompang eksis
Selamat
tinggal dan sampai bertemu kembali akar bakau tumpuan kaki. Selamat tinggal dan
sampai bertemu kembali kabut tipis selimut hati. Selamat tinggal dan sampai
bertemu kembali langit biru kanvas Ilahi. Selamat tinggal dan sampai bertemu
kembali senja penuh arwah dan jiwa. Aku mungkin akan melupakanmu, namun
setelahku akan datang dia yang kembali mencintaimu. Hingga waktunya tiba, tetap
disitu tetap seperti itu, tetap milik bangsaku.
Lobam,
04/23/2018 - uploaded 06/02/2018
Dedikasi
untuk mereka yang aku kasihi
Untuk mereka yang menjadi bagian cerita dalam perjalananku dipulau ini
Untuk mereka yang mendidikku menjadi lebih kuat
Untuk mereka yang memotivasi melalui semua kisah hidupnya
Untuk sahabat terbaikku yang kukenang dalam tidur abadinya, -jewe

